DPR Akan Bertanya Rumor Papua Dan Test Keperawanan Ke Calon Panglima TNI Andika Gagah
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Christina Aryani menyongsong baik pengusulan Jenderal Andika Gagah sebagai Panglima TNI. Menurutnya, dengan pengalaman dan reputasi, Andika mampu memikul pekerjaan sebagai Panglima TNI.
"Dalam penilaian kami, Jenderal Andika lumayan banyak lakukan inovasi yang dapat bawa udara segar untuk organisasi TNI yang akan datang. Dia mempunyai kekuatan komunikasi yang bagus, humanis dan responsive," kata Christina dalam penjelasannya, Kamis (4/11/2021).
Berkenaan agenda tes kelaikan dan kepatutan atau bugar and proper tes pada Andika Gagah, Christina mengatakan, Komisi I DPR masih menanti penempatan dari Tubuh Permufakatan (Bamus) DPR.
"Komisi I tengah menanti penempatan dari Bamus untuk memulai jalankan proses bugar and proper tes pada Jenderal Andika yang nanti akan lewat tahapan-tahapan. Mengarah praktek awalnya bakal ada proses klarifikasi administrasi, klarifikasi faktual, tes kelaikan dan kepatutan, dan rapat paripurna ambil keputusan. Hasil paripurna seterusnya akan dibawa ke Rapat Pleno DPR-RI," terang ia.
Tetapi, Christina akui faksinya sudah mempersiapkan pertanyaan untuk calon Panglima TNI Andika Gagah. Dua rumor sebagai perhatian yaitu keamanan Papua dan penghilangan test keperawanan TNI.
"Masalah rumor keamanan di Papua, desas-desus sekitar keamanan laut, dan sudah pasti implikasi dari wawasan penghilangan tes keperawanan untuk calon prajurit TNI," katanya.
"Menyikapi beberapa penglihatan berkaitan dinamika dan perputaran matra, kembali kami tekankan jika pemilihan Panglima TNI ialah hak prerogatif Presiden. UU 34 Tahun 2004 mengenai TNI atur peluang perputaran antara matra sebagai Panglima TNI tetapi satu kali lagi, bukan hal yang diharuskan. Kami yakin TNI professional dan Agen Slot siap jalankan keputusan Presiden sebagai Panglima paling tinggi," pungkas Christina.
KSP Paparkan Argumen Jokowi Tunjuk Andika Gagah Jadi Panglima TNI
Penasihat senior Kantor Staff Presiden (KSP) Andi Widjajanto ungkap beberapa argumen Presiden Joko Widodo atau Jokowi pilih Kepala Staff Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Gagah sebagai calon Panglima TNI. Pertama, Andika dipandang lebih senior dibanding dua kepala staff angkatan yang lain.
Andika dijumpai sebagai alumnus Sekolah tinggi Militer (Akmil) tahun 1987, sementara Kepala Staff Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono alumnus Sekolah tinggi Angkatan Laut tahun 1988. Adapun Kepala Staff Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar Prasetyo lulus Sekolah tinggi Angkatan Udara pada 1988.
"Senioritas, Andika Gagah yang paling senior antara beberapa Kepala Staff Angkatan," tutur Andi Widjajanto ke Liputan6.com, Rabu (3/11/2021).
Disamping itu, katanya, Andika mempunyai hubungan individual dengan Presiden Jokowi. Karena, Andika pernah memegang sebagai Komandan Pasukan Penyelamatan Presiden (Danpaspampres) pada 2014 dan memegang sekitaran 2 tahun.
Andi menyebutkan diputuskannya Andika karena mempunyai kendalian operasi militer, terutamanya untuk tangani wabah Covid-19 sampai perselisihan di Papua. Menurutnya, TNI AD mempunyai kedalaman gelar teritorial tangani permasalahan itu.
Ia memandang periode kedudukan Andika Gagah sebagai Panglima TNI bagus untuk rangka Pemilu 2024. Masalahnya Andika diprediksi akan pensiun pada Desember 2022 hingga nanti presiden bisa pilih Panglima TNI baru saat sebelum tingkatan Pemilu diawali di Maret 2023.
"KSAL dan KSAU akan pensiun November 2023 dan April 2024 saat kampanye pemilu berjalan, temperatur politik naik," terang bekas Sekretaris Cabinet itu.
0 Komentar